Ada Bongkahan Es di PLanet Mars
VIVAnews - Dari penelitian terakhir, disimpulkan bahwa terdapat bongkahan es pernah hadir di planet Mars. Bukti-bukti yang ditemukan menunjukkan bahwa masa lalu terdapat samudera yang dingin di planet tersebut.
Sebelumnya ada dua kemungkinan bagaimana kondisi planet Mars di masa lalu. Pertama, permukaan di sana dingin dan kering. Kedua, Mars sempat memiliki kondisi hangat dan basah, yang memungkinkan planet itu punya danau-danau, laut, serta curah hujan untuk periode waktu yang panjang.
Kini, seperti dikutip dari Livescience, 4 Oktober 2010, peneliti menemukan bekas-bekas bongkahan es di planet Mars. Artinya, ada kemungkinan ketiga, seputar kondisi permukaan Mars di masa lalu, yakni dingin dan basah. Kondisi tersebut memungkinkan Mars punya samudera dan lautan yang sebagiannya diselimuti es dan gletser.
“Jika terdapat bongkahan es, kemungkinan besar di permukaan Mars pernah terdapat perairan dalam ukuran besar,” kata Alberto Fairen, peneliti dari SETI Institute and NASA Ames Research Center.
“Perairan tersebut bisa berukuran beberapa lautan lokal hingga samudera tunggal yang meliputi seluruh permukaan,” kata Fairen. “Dan perairan itu hadir secara terus menerus atau terbagi dalam beberapa periode,” ucapnya.
Fairen menyebutkan, tanda gerusan sepanjang 1 sampai 5 kilometer yang ditemukan di dataran utara dan cekungan Hellas juga bisa menjadi bukti akan adanya bongkahan es di masa lalu.
“Gerusan ini bisa diakibatkan oleh bagian dasar bongkahan es yang mengikis dasar samudera,” kata Fairen. “Ini merupakan bukti paling nyata tentang adanya bongkahan es tersebut,” ucapnya.
ciao . .
weLcome 2the greenLand . .
Selasa, 05 Oktober 2010
Senin, 30 Agustus 2010
ensikLopedia kecepatan cahaya
Kecepatan cahaya
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Tabel konversi untuk satuan kecepatan
1 c (konstanta kecepatan cahaya)
adalah sama dengan
1 kecepatan cahaya (c)
107.925.284.880,00 sentimeter per jam (cm/h)
29.979.245.800,00 sentimeter per menit (cm/s)
1.798.754.748,00 sentimeter per detik (cm/m)
3.540.855.803.149,61 kaki per jam (foot/h)
59.014.263.385,83 kaki per menit (foot/m)
983.571.056,43 kaki per detik (foot/s)
1.079.252.848.800,00 meter per jam (m/h)
17.987.547.480,00 meter per menit (m/m)
299.792.458,00 meter per detik (m/s)
1.079.252.848,80 kilometer per jam (km/h)
17.987.547,48 kilometer per menit (km/m)
299.792,46 kilometer per detik (km/s)
582.749.918,36 knot (knot)
904.460,44 mach (laut) (mach (laut))
1.016.085,80 mach (SI) (mach (SI))
670.616.629,38 mil per jam (mil/h)
11.176.943,82 mil per menit (mil/m)
186.282,39 mil per detik (mil/s)
1.180.285.267.716,53 yard per jam (yard/h)
19.671.421,13 yard per menit (yard/m)
327.857.018,81 yard per detik (yard/s)
Cahaya Matahari diperkirakan memerlukan waktu 8 menit untuk mencapai Bumi. Kecepatan cahaya dalam beberapa unit satuan
meter per detik 299,792,458 (exact)
kilometer per detik ˜ 300,000
kilometer per jam ˜ 1,079,000,000
mil per detik ˜ 186,000
mil per jam ˜ 671,000,000
natural units 1 (exact and dimensionless)
Perkiraan lama waktu yang diperlukan dari jarak tempuh cahaya:
Satu kaki 1.0 nanodetik
Satu meter 3.3 nanodetik
Satu kilometer 3.3 mikrodetik
Satu mil 5.4 mikrodetik
Dari Bumi ke geostationary orbit 0.12 detik
Mengelilingi khatulistiwa bumi 0.13 detik
Dari Bumi ke Bulan 1.3 detik
Dari Bumi ke Matahari 8.3 menit
Dari Bumi ke Alpha Centauri 4.4 tahun
Menyebrangi Bima Sakti 100,000 tahun
Kecepatan cahaya merupakan sebuah konstanta yang disimbolkan dengan huruf c, singkatan dari celeritas (yang dirujuk dari dari bahasa Latin) yang berarti "kecepatan".
Kecepatan cahaya dalam sebuah ruang hampa udara didefinisikan saat ini pada 299.792.458 meter per detik (m/s)[1]atau 1.079.252.848,8 kilometer per jam (km/h) atau 186.282.4 mil per detik (mil/s) atau 670.616.629,38 mil per jam (mil/h), yang ditetapkan pada tahun 1975 dengan toleransi kesalahan sebesar 4×10−9.[2] Pada tahun 1983, satuan meter didefinisikan kembali dalam Sistem Satuan Internasional (SI) kemudian ditetapkan pada 17th Conférence Générale des Poids et Mesures sebagai ... the length of the path travelled by light in vacuum during a time interval of 1⁄299.792.458 of a second[3][4][5][6] , sehingga nilai konstanta c dalam meter per detik sekarang tetap tepat dalam definisi meter, sebagai jarak yang ditempuh oleh cahaya dalam ruang hampa pada 1⁄299.792.458 detik[7][8][9].
Observasi Rømer dengan mengamati gerakan planet Jupiter dan menghitung pergeseran periode orbit dari salah satu bulan satelitnya yang bernama Io, dan kemudian Rømer dapat memperkirakan jarak tempuh cahaya dari diameter orbit bumi
[sunting]
Kronologis
Beragam ilmuwan sepanjang sejarah telah mencoba untuk mengukur kecepatan cahaya.
Pada tahun 1629, Isaac Beeckman melakukan observasi sinar flash yang dipantulkan oleh cermin dari jarak 1 mil (1,6 kilometer).
Pada tahun 1638, Galileo Galilei berusaha untuk mengukur kecepatan cahaya dari waktu tunda antara sebuah cahaya lentera dengan persepsi dari jarak cukup jauh.
Pada tahun 1667, percobaan Galileo Galilei diteliti oleh Accademia del Cimento of Florence, dengan rentang 1 mil, tetapi tidak terdapat waktu tunda yang dapat diamati. Berdasarkan perhitungan modern, waktu tunda pada percobaan itu seharusnya adalah 11 mikrodetik. Dan Galileo Galilei mengatakan bahwa observasi itu tidak menunjukkan bahwa cahaya mempunyai kecepatan yang tidak terhingga, tetapi hanya menunjukkan bahwa cahaya mempunyai kecepatan yang sangat tinggi.[10][11]
Pada tahun 1676, sebuah percobaan awal untuk mengukur kecepatan cahaya dilakukan oleh Ole Christensen Rømer, seorang ahli fisika Denmark dan anggota grup astronomi dari French Royal Academy of Sciences. Dengan menggunakan teleskop, Ole Christensen Rømer mengamati gerakan planet Jupiter dan salah satu bulan satelitnya, bernama Io[12][13]. Dengan menghitung pergeseran periode orbit Io, Rømer memperkirakan jarak tempuh cahaya pada diameter orbit bumi sekitar 22 menit[14]. Jika pada saat itu Rømer mengetahui angka diameter orbit bumi, kalkulasi kecepatan cahaya yang dibuatnya akan mendapatkan angka 227×106 meter/detik. Dengan data Rømer ini, Christiaan Huygens mendapatkan estimasi kecepatan cahaya pada sekitar 220×106 meter/detik. Penemuan awal penemuan grup ini diumumkan oleh Giovanni Domenico Cassini pada tahun 1675, periode Io, bulan satelit planet Jupiter dengan orbit terpendek, nampak lebih pendek pada saat Bumi bergerak mendekati Jupiter daripada pada saat menjauhinya. Rømer mengatakan hal ini terjadi karena cahaya bergerak pada kecepatan yang konstan. Pada bulan September 1676, berdasarkan asumsi ini, Rømer memperkirakan bahwa pada tanggal 9 November 1676, Io akan muncul dari bayang-bayang Jupiter 10 menit lebih lambat daripada kalkulasi berdasarkan rata-rata kecepatannya yang diamati pada bulan Agustus 1676.[15]. Setelah perkiraan Rømer terbukti,[16] dia diundang oleh French Academy of Sciences[17] untuk menjelaskan metode yang digunakan untuk hal tersebut.[18] Diagram di samping adalah replika diagram yang digunakan Rømer dalam penjelasan tersebut.[19]
Pada tahun 1704, Isaac Newton juga menyatakan bahwa cahaya bergerak pada kecepatan yang konstan. Dalam bukunya berjudul Opticks, Newton menyatakan besaran kecepatan cahaya senilai 16,6 x diamater Bumi per detik (210.000 kilometer/detik).
Teori James Bradley
Diagram Hippolyte Fizeau
Pada tahun 1725, James Bradley mengatakan, cahaya bintang yang tiba di Bumi akan nampak seakan-akan berasal dari sudut yang kecil, dan dapat dikalkulasi dengan membandingkan kecepatan Bumi pada orbitnya dengan kecepatan cahaya. Kalkulasi kecepatan cahaya oleh Bradley adalah sekitar 298.000 kilometer/detik (186.000 mil/detik). Teori Bradley dikenal sebagai stellar aberration.[20] Sinar cahaya yang datang bintang 1 membutuhkan waktu untuk mencapai bumi, dan pada saat sinar tersebut tiba, bumi telah bergeser pada orbitnya, sehingga seolah-olah kita melihat sinar cahaya tersebut datang dari bintang di lokasi 2.
Pada tahun 1849, pengukuran kecepatan cahaya, yang lebih akurat, dilakukan di Eropa oleh Hippolyte Fizeau. Fizeau menggunakan roda sprocket yang berputar untuk meneruskan cahaya dari sumbernya ke sebuah cermin yang diletakkan sejauh beberapa kilometer. Pada kecepatan rotasi tertentu, cahaya sumber akan melalui sebuah kisi, menempuh jarak menuju cermin, memantul kembali dan tiba pada kisi berikutnya. Dengan mengetahui jarak cermin, jumlah kisi, kecepatan putar roda, Fizeau mendapatkan kalkulasi kecepatan cahaya pada 313×106 meter/detik.
Pada tahun 1862, Léon Foucault bereksperimen dengan penggunaan cermin rotasi dan mendapatkan angka 298×106 meter/detik.
Albert Abraham Michelson melakukan percobaan-percobaan dari tahun 1877 hingga tahun 1926 untuk menyempurnakan metode yang digunakan Foucault dengan penggunaan cermin rotasi untuk mengukur waktu yang dibutuhkan cahaya pada 2 x jarak tempuh antara Gunung Wilson dan Gunung San Antonio, di California. Hasil pengukuran menunjukkan 299.796.000 meter/detik. Beliau wafat lima tahun kemudian pada tahun 1931.
Pada tahun 1946, saat pengembangan cavity resonance wavemeter untuk penggunaan pada radar, Louis Essen dan A. C. Gordon-Smith menggunakan gelombang mikro dan teori elektromagnetik untuk menghitung kecepatan cahaya. Angka yang didapat adalah 299.792±3 kilometer/detik.
Pada tahun 1950, Essen mengulangi pengukuran tersebut dan mendapatkan angka 299.792.5±1 kilometer/detik, yang menjadi acuan bagi 12th General Assembly of the Radio-Scientific Union pada tahun 1957.
Angka yang paling akurat ditemukan di Cambridge pada pengukuran melalui kondensat Bose-Einstein dengan elemen Rubidium. Tim pertama dipimpin oleh Dr. Lene Vestergaard Hau dari Harvard University and the Rowland Institute for Science. Tim yang kedua dipimpin oleh Dr. Ronald L. Walsworth, dan, Dr. Mikhail D. Lukin dari the Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics.
Notasi kecepatan cahaya (c) mempunyai makna "konstan" atau tetap[21] yang digunakan sebagai notasi kecepatan cahaya dalam ruang hampa udara, namun terdapat juga penggunaan notasi c untuk kecepatan cahaya dalam medium material sedangkan c0 untuk kecepatan cahaya dalam ruang hampa udara.[22] Notasi subskrip ini dimaklumkan karena dalam literatur SI [23] sebagai bentuk standar notasi pada suatu konstanta, ada juga berbentuk seperti: konstanta magnetik µ0, konstanta elektrik e0, impedansi ruang kamar Z0.
Menurut Albert Einstein dalam teori relativitas, c adalah konstanta penting yang menghubungkan ruang dan waktu dalam satu kesatuan struktur dimensi ruang waktu. Di dalamnya, c mendefinisikan konversi antara materi dan energi[24] E=mc2.[25], dan batas tercepat waktu tempuh materi dan energi tersebut.[26][27] c juga merupakan kecepatan tempuh semua radiasi elektromagnetik dalam ruang kamar[28] dan diduga juga merupakan kecepatan gelombang gravitasi.[29][30] Dalam teori ini, sering digunakan satuan natural units di mana c=1, [31][32] sehingga notasi c tidak lagi digunakan.
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Tabel konversi untuk satuan kecepatan
1 c (konstanta kecepatan cahaya)
adalah sama dengan
1 kecepatan cahaya (c)
107.925.284.880,00 sentimeter per jam (cm/h)
29.979.245.800,00 sentimeter per menit (cm/s)
1.798.754.748,00 sentimeter per detik (cm/m)
3.540.855.803.149,61 kaki per jam (foot/h)
59.014.263.385,83 kaki per menit (foot/m)
983.571.056,43 kaki per detik (foot/s)
1.079.252.848.800,00 meter per jam (m/h)
17.987.547.480,00 meter per menit (m/m)
299.792.458,00 meter per detik (m/s)
1.079.252.848,80 kilometer per jam (km/h)
17.987.547,48 kilometer per menit (km/m)
299.792,46 kilometer per detik (km/s)
582.749.918,36 knot (knot)
904.460,44 mach (laut) (mach (laut))
1.016.085,80 mach (SI) (mach (SI))
670.616.629,38 mil per jam (mil/h)
11.176.943,82 mil per menit (mil/m)
186.282,39 mil per detik (mil/s)
1.180.285.267.716,53 yard per jam (yard/h)
19.671.421,13 yard per menit (yard/m)
327.857.018,81 yard per detik (yard/s)
Cahaya Matahari diperkirakan memerlukan waktu 8 menit untuk mencapai Bumi. Kecepatan cahaya dalam beberapa unit satuan
meter per detik 299,792,458 (exact)
kilometer per detik ˜ 300,000
kilometer per jam ˜ 1,079,000,000
mil per detik ˜ 186,000
mil per jam ˜ 671,000,000
natural units 1 (exact and dimensionless)
Perkiraan lama waktu yang diperlukan dari jarak tempuh cahaya:
Satu kaki 1.0 nanodetik
Satu meter 3.3 nanodetik
Satu kilometer 3.3 mikrodetik
Satu mil 5.4 mikrodetik
Dari Bumi ke geostationary orbit 0.12 detik
Mengelilingi khatulistiwa bumi 0.13 detik
Dari Bumi ke Bulan 1.3 detik
Dari Bumi ke Matahari 8.3 menit
Dari Bumi ke Alpha Centauri 4.4 tahun
Menyebrangi Bima Sakti 100,000 tahun
Kecepatan cahaya merupakan sebuah konstanta yang disimbolkan dengan huruf c, singkatan dari celeritas (yang dirujuk dari dari bahasa Latin) yang berarti "kecepatan".
Kecepatan cahaya dalam sebuah ruang hampa udara didefinisikan saat ini pada 299.792.458 meter per detik (m/s)[1]atau 1.079.252.848,8 kilometer per jam (km/h) atau 186.282.4 mil per detik (mil/s) atau 670.616.629,38 mil per jam (mil/h), yang ditetapkan pada tahun 1975 dengan toleransi kesalahan sebesar 4×10−9.[2] Pada tahun 1983, satuan meter didefinisikan kembali dalam Sistem Satuan Internasional (SI) kemudian ditetapkan pada 17th Conférence Générale des Poids et Mesures sebagai ... the length of the path travelled by light in vacuum during a time interval of 1⁄299.792.458 of a second[3][4][5][6] , sehingga nilai konstanta c dalam meter per detik sekarang tetap tepat dalam definisi meter, sebagai jarak yang ditempuh oleh cahaya dalam ruang hampa pada 1⁄299.792.458 detik[7][8][9].
Observasi Rømer dengan mengamati gerakan planet Jupiter dan menghitung pergeseran periode orbit dari salah satu bulan satelitnya yang bernama Io, dan kemudian Rømer dapat memperkirakan jarak tempuh cahaya dari diameter orbit bumi
[sunting]
Kronologis
Beragam ilmuwan sepanjang sejarah telah mencoba untuk mengukur kecepatan cahaya.
Pada tahun 1629, Isaac Beeckman melakukan observasi sinar flash yang dipantulkan oleh cermin dari jarak 1 mil (1,6 kilometer).
Pada tahun 1638, Galileo Galilei berusaha untuk mengukur kecepatan cahaya dari waktu tunda antara sebuah cahaya lentera dengan persepsi dari jarak cukup jauh.
Pada tahun 1667, percobaan Galileo Galilei diteliti oleh Accademia del Cimento of Florence, dengan rentang 1 mil, tetapi tidak terdapat waktu tunda yang dapat diamati. Berdasarkan perhitungan modern, waktu tunda pada percobaan itu seharusnya adalah 11 mikrodetik. Dan Galileo Galilei mengatakan bahwa observasi itu tidak menunjukkan bahwa cahaya mempunyai kecepatan yang tidak terhingga, tetapi hanya menunjukkan bahwa cahaya mempunyai kecepatan yang sangat tinggi.[10][11]
Pada tahun 1676, sebuah percobaan awal untuk mengukur kecepatan cahaya dilakukan oleh Ole Christensen Rømer, seorang ahli fisika Denmark dan anggota grup astronomi dari French Royal Academy of Sciences. Dengan menggunakan teleskop, Ole Christensen Rømer mengamati gerakan planet Jupiter dan salah satu bulan satelitnya, bernama Io[12][13]. Dengan menghitung pergeseran periode orbit Io, Rømer memperkirakan jarak tempuh cahaya pada diameter orbit bumi sekitar 22 menit[14]. Jika pada saat itu Rømer mengetahui angka diameter orbit bumi, kalkulasi kecepatan cahaya yang dibuatnya akan mendapatkan angka 227×106 meter/detik. Dengan data Rømer ini, Christiaan Huygens mendapatkan estimasi kecepatan cahaya pada sekitar 220×106 meter/detik. Penemuan awal penemuan grup ini diumumkan oleh Giovanni Domenico Cassini pada tahun 1675, periode Io, bulan satelit planet Jupiter dengan orbit terpendek, nampak lebih pendek pada saat Bumi bergerak mendekati Jupiter daripada pada saat menjauhinya. Rømer mengatakan hal ini terjadi karena cahaya bergerak pada kecepatan yang konstan. Pada bulan September 1676, berdasarkan asumsi ini, Rømer memperkirakan bahwa pada tanggal 9 November 1676, Io akan muncul dari bayang-bayang Jupiter 10 menit lebih lambat daripada kalkulasi berdasarkan rata-rata kecepatannya yang diamati pada bulan Agustus 1676.[15]. Setelah perkiraan Rømer terbukti,[16] dia diundang oleh French Academy of Sciences[17] untuk menjelaskan metode yang digunakan untuk hal tersebut.[18] Diagram di samping adalah replika diagram yang digunakan Rømer dalam penjelasan tersebut.[19]
Pada tahun 1704, Isaac Newton juga menyatakan bahwa cahaya bergerak pada kecepatan yang konstan. Dalam bukunya berjudul Opticks, Newton menyatakan besaran kecepatan cahaya senilai 16,6 x diamater Bumi per detik (210.000 kilometer/detik).
Teori James Bradley
Diagram Hippolyte Fizeau
Pada tahun 1725, James Bradley mengatakan, cahaya bintang yang tiba di Bumi akan nampak seakan-akan berasal dari sudut yang kecil, dan dapat dikalkulasi dengan membandingkan kecepatan Bumi pada orbitnya dengan kecepatan cahaya. Kalkulasi kecepatan cahaya oleh Bradley adalah sekitar 298.000 kilometer/detik (186.000 mil/detik). Teori Bradley dikenal sebagai stellar aberration.[20] Sinar cahaya yang datang bintang 1 membutuhkan waktu untuk mencapai bumi, dan pada saat sinar tersebut tiba, bumi telah bergeser pada orbitnya, sehingga seolah-olah kita melihat sinar cahaya tersebut datang dari bintang di lokasi 2.
Pada tahun 1849, pengukuran kecepatan cahaya, yang lebih akurat, dilakukan di Eropa oleh Hippolyte Fizeau. Fizeau menggunakan roda sprocket yang berputar untuk meneruskan cahaya dari sumbernya ke sebuah cermin yang diletakkan sejauh beberapa kilometer. Pada kecepatan rotasi tertentu, cahaya sumber akan melalui sebuah kisi, menempuh jarak menuju cermin, memantul kembali dan tiba pada kisi berikutnya. Dengan mengetahui jarak cermin, jumlah kisi, kecepatan putar roda, Fizeau mendapatkan kalkulasi kecepatan cahaya pada 313×106 meter/detik.
Pada tahun 1862, Léon Foucault bereksperimen dengan penggunaan cermin rotasi dan mendapatkan angka 298×106 meter/detik.
Albert Abraham Michelson melakukan percobaan-percobaan dari tahun 1877 hingga tahun 1926 untuk menyempurnakan metode yang digunakan Foucault dengan penggunaan cermin rotasi untuk mengukur waktu yang dibutuhkan cahaya pada 2 x jarak tempuh antara Gunung Wilson dan Gunung San Antonio, di California. Hasil pengukuran menunjukkan 299.796.000 meter/detik. Beliau wafat lima tahun kemudian pada tahun 1931.
Pada tahun 1946, saat pengembangan cavity resonance wavemeter untuk penggunaan pada radar, Louis Essen dan A. C. Gordon-Smith menggunakan gelombang mikro dan teori elektromagnetik untuk menghitung kecepatan cahaya. Angka yang didapat adalah 299.792±3 kilometer/detik.
Pada tahun 1950, Essen mengulangi pengukuran tersebut dan mendapatkan angka 299.792.5±1 kilometer/detik, yang menjadi acuan bagi 12th General Assembly of the Radio-Scientific Union pada tahun 1957.
Angka yang paling akurat ditemukan di Cambridge pada pengukuran melalui kondensat Bose-Einstein dengan elemen Rubidium. Tim pertama dipimpin oleh Dr. Lene Vestergaard Hau dari Harvard University and the Rowland Institute for Science. Tim yang kedua dipimpin oleh Dr. Ronald L. Walsworth, dan, Dr. Mikhail D. Lukin dari the Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics.
Notasi kecepatan cahaya (c) mempunyai makna "konstan" atau tetap[21] yang digunakan sebagai notasi kecepatan cahaya dalam ruang hampa udara, namun terdapat juga penggunaan notasi c untuk kecepatan cahaya dalam medium material sedangkan c0 untuk kecepatan cahaya dalam ruang hampa udara.[22] Notasi subskrip ini dimaklumkan karena dalam literatur SI [23] sebagai bentuk standar notasi pada suatu konstanta, ada juga berbentuk seperti: konstanta magnetik µ0, konstanta elektrik e0, impedansi ruang kamar Z0.
Menurut Albert Einstein dalam teori relativitas, c adalah konstanta penting yang menghubungkan ruang dan waktu dalam satu kesatuan struktur dimensi ruang waktu. Di dalamnya, c mendefinisikan konversi antara materi dan energi[24] E=mc2.[25], dan batas tercepat waktu tempuh materi dan energi tersebut.[26][27] c juga merupakan kecepatan tempuh semua radiasi elektromagnetik dalam ruang kamar[28] dan diduga juga merupakan kecepatan gelombang gravitasi.[29][30] Dalam teori ini, sering digunakan satuan natural units di mana c=1, [31][32] sehingga notasi c tidak lagi digunakan.
Like einstein
PERHITUNGAN KECEPATAN CAHAYA
QS 32: As-Sajdah:5
Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian
(urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang
kadarnya seribu tahun menurut perhitunganmu.
----------------------------------------------------------------------
Orang Islam melakukan perhitungan waktu dengan
hitungan bulan [moon]. Satu tahun menurut
perhitunganmu terdiri atas 12 bulan [month], dengan
setiap bulan [month] menunjukkan satu kali revolusi
bulan [moon] terhadap bumi.
Selama ini kita menganggap kala revolusi bulan
adalah 29.53 hari, yaitu waktu antara fase sinar
matahari yang sama pada bulan. Padahal selang
waktu itu dipengaruhi juga oleh bergeraknya bumi
mengitari matahari. Kala revolusi bulan sendiri, yaitu
waktu berputarnya bulan tepat 360 derajat
mengelilingi bumi, adalah 27.321661 hari, atau
655.71986 jam. Kala rotasi bumi juga bukan 24 jam
[yang juga dihitung berdasarkan fase sinar matahari],
melainkan 23 jam 56 menit 4.0906 detik, atau
86164.0906 detik.
Sekarang, kalau "satu hari" bagi "Sang Urusan" itu
sama dengan "seribu tahun" bagi "perhitungan
bulan", maka perbandingan kecepatan sang urusan
dengan kecepatan bulan adalah 1000 kali 12, jadi
12000.
C t = 12000 L
C = kecepatan sang urusan
t = kala rotasi bumi = 86164.0906 detik
L = jarak yang ditempuh bulan dalam satu revolusi
Kalau kecepatan bulan kita notasikan dengan V,
maka :
V = 2 π R / T
R = jejari lintasan bulan terhadap bumi = 384264 km
T = kala revolusi bulan = 655.71986 jam
V = 3682.07 km/jam --> disetujui oleh NASA
Ada hal lain yang harus kita hitung. Menuruti Einstein,
kita harus mengeliminasi faktor gravitasi matahari.
Gravitasi matahari membuat bumi mengelilingi
matahari dengan kala revolusi 365.25636 hari. Satu
kali revolusi bulan, 27.321661 hari, telah membuat
bumi berputar sebesar α =
27.321661/365.25636360 derajat = 26.92848
derajat. Putaran ini harus dieliminasi. Kecepatan
bulan tanpa putaran terhadap matahari bukan lagi V,
melainkan (V cos α).
L = V cos α T
Tapi :
C t = 12000 L
Maka :
C = 12000 V cos α T / t
= 12000 3682.07 km/jam 0.89157 655.71986
jam / 86164.0906 detik
= 299792.5 km/detik
----------------------------------------------------------------------
Untuk perbandingan :
1. Hasil hitung kita : C = 299792.5 km/detik
2. US National Bureau of Standards: C =
299792.4574 + 0.0011 km/detik
3. British National Physical Lab: C = 299792.4590 +
0.0008 km/detik
4. General Conf on Measures: 1 m = jarak cahaya
selama 1/299792458 detik
----------------------------------------------------------------------
Formulasi ini diturunkan dari wahyu yang diterima
manusia, yaitu Rasulullh Muhammad saw, yang
hidup di tengah masyarakat ummi di gurun pasir
sekitar 1400 tahun yang lalu. Sungguh tidak wajar
kalau sebagian dari kita masih bisa beranggapan
bahwa Ia (Muhammad saw) mengada-adakannya.
QS 32: As-Sajdah:5
Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian
(urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang
kadarnya seribu tahun menurut perhitunganmu.
----------------------------------------------------------------------
Orang Islam melakukan perhitungan waktu dengan
hitungan bulan [moon]. Satu tahun menurut
perhitunganmu terdiri atas 12 bulan [month], dengan
setiap bulan [month] menunjukkan satu kali revolusi
bulan [moon] terhadap bumi.
Selama ini kita menganggap kala revolusi bulan
adalah 29.53 hari, yaitu waktu antara fase sinar
matahari yang sama pada bulan. Padahal selang
waktu itu dipengaruhi juga oleh bergeraknya bumi
mengitari matahari. Kala revolusi bulan sendiri, yaitu
waktu berputarnya bulan tepat 360 derajat
mengelilingi bumi, adalah 27.321661 hari, atau
655.71986 jam. Kala rotasi bumi juga bukan 24 jam
[yang juga dihitung berdasarkan fase sinar matahari],
melainkan 23 jam 56 menit 4.0906 detik, atau
86164.0906 detik.
Sekarang, kalau "satu hari" bagi "Sang Urusan" itu
sama dengan "seribu tahun" bagi "perhitungan
bulan", maka perbandingan kecepatan sang urusan
dengan kecepatan bulan adalah 1000 kali 12, jadi
12000.
C t = 12000 L
C = kecepatan sang urusan
t = kala rotasi bumi = 86164.0906 detik
L = jarak yang ditempuh bulan dalam satu revolusi
Kalau kecepatan bulan kita notasikan dengan V,
maka :
V = 2 π R / T
R = jejari lintasan bulan terhadap bumi = 384264 km
T = kala revolusi bulan = 655.71986 jam
V = 3682.07 km/jam --> disetujui oleh NASA
Ada hal lain yang harus kita hitung. Menuruti Einstein,
kita harus mengeliminasi faktor gravitasi matahari.
Gravitasi matahari membuat bumi mengelilingi
matahari dengan kala revolusi 365.25636 hari. Satu
kali revolusi bulan, 27.321661 hari, telah membuat
bumi berputar sebesar α =
27.321661/365.25636360 derajat = 26.92848
derajat. Putaran ini harus dieliminasi. Kecepatan
bulan tanpa putaran terhadap matahari bukan lagi V,
melainkan (V cos α).
L = V cos α T
Tapi :
C t = 12000 L
Maka :
C = 12000 V cos α T / t
= 12000 3682.07 km/jam 0.89157 655.71986
jam / 86164.0906 detik
= 299792.5 km/detik
----------------------------------------------------------------------
Untuk perbandingan :
1. Hasil hitung kita : C = 299792.5 km/detik
2. US National Bureau of Standards: C =
299792.4574 + 0.0011 km/detik
3. British National Physical Lab: C = 299792.4590 +
0.0008 km/detik
4. General Conf on Measures: 1 m = jarak cahaya
selama 1/299792458 detik
----------------------------------------------------------------------
Formulasi ini diturunkan dari wahyu yang diterima
manusia, yaitu Rasulullh Muhammad saw, yang
hidup di tengah masyarakat ummi di gurun pasir
sekitar 1400 tahun yang lalu. Sungguh tidak wajar
kalau sebagian dari kita masih bisa beranggapan
bahwa Ia (Muhammad saw) mengada-adakannya.
Senin, 23 Agustus 2010
8 things that can kill your job chances
In her new book “What Your Body Says,” Sharon Saylor writes, “The most influential part of communication is your nonverbal. Your nonverbal can actually destroy or produce the results you want, such as inspiring employees to do better work, calming angry customers, creating fans in the marketplace and closing sales.”
And according to a new CareerBuilder survey, your body language can also hurt your chances of landing a job … especially a lack of eye contact.
In the survey of more than 2,500 hiring managers, 67 percent said that failure to make eye contact would make them less likely to hire a job candidate. Other nonverbals that hiring managers cited as negative included these seven things:
Lack of smile – 38 percent
Fidgeting too much – 33 percent
Bad posture – 33 percent
Handshake that is too weak – 26 percent
Crossing arms over their chest – 21 percent
Playing with their hair or touching their face – 21 percent
Using too many hand gestures – 9 percent
“In a highly competitive job market, job seekers need to set themselves apart in the interview stage,” said Rosemary Haefner, vice president of human resources for CareerBuilder. “All that pressure, though, may have some job seekers making body language mistakes that don’t convey a confident message. To avoid these faux pas, and ensure you’re remembered for the right reasons, try practicing ahead of time in front of a mirror or family and friends.”
Haefner offers the following tips to avoid body language missteps during an interview:
Keep calm. To make the best impression and avoid nervous body language, take measures to stay as calm as possible before the interview. Leave the house with plenty of time to get to the interview, avoid caffeine if possible and take deep, calming breaths.
Practice makes perfect. The old adage proves true in this case, as you’ll feel more comfortable the more you prepare for the interview, and in turn, it will help decrease your anxiety. Rehearse ahead of time with friends or family, do your homework on the company and be prepared for common interview questions.
See for yourself. Viewing yourself while speaking can help you notice what body language mistakes you might be making without realizing. Look in a mirror while practicing interview responses or videotape yourself to figure out your typical physical movements, and whether or not you need to change them.
Saylor, who is a certified group dynamics and behavioral coach, says it is possible to change your behavior and be conscious of what messages you’re sending with your own body. Her book gives the reader tips on overcoming many communication roadblocks including how to project confidence, how to look intelligent, how to eliminate verbal pauses, and how to use your posture to show confidence.
And according to a new CareerBuilder survey, your body language can also hurt your chances of landing a job … especially a lack of eye contact.
In the survey of more than 2,500 hiring managers, 67 percent said that failure to make eye contact would make them less likely to hire a job candidate. Other nonverbals that hiring managers cited as negative included these seven things:
Lack of smile – 38 percent
Fidgeting too much – 33 percent
Bad posture – 33 percent
Handshake that is too weak – 26 percent
Crossing arms over their chest – 21 percent
Playing with their hair or touching their face – 21 percent
Using too many hand gestures – 9 percent
“In a highly competitive job market, job seekers need to set themselves apart in the interview stage,” said Rosemary Haefner, vice president of human resources for CareerBuilder. “All that pressure, though, may have some job seekers making body language mistakes that don’t convey a confident message. To avoid these faux pas, and ensure you’re remembered for the right reasons, try practicing ahead of time in front of a mirror or family and friends.”
Haefner offers the following tips to avoid body language missteps during an interview:
Keep calm. To make the best impression and avoid nervous body language, take measures to stay as calm as possible before the interview. Leave the house with plenty of time to get to the interview, avoid caffeine if possible and take deep, calming breaths.
Practice makes perfect. The old adage proves true in this case, as you’ll feel more comfortable the more you prepare for the interview, and in turn, it will help decrease your anxiety. Rehearse ahead of time with friends or family, do your homework on the company and be prepared for common interview questions.
See for yourself. Viewing yourself while speaking can help you notice what body language mistakes you might be making without realizing. Look in a mirror while practicing interview responses or videotape yourself to figure out your typical physical movements, and whether or not you need to change them.
Saylor, who is a certified group dynamics and behavioral coach, says it is possible to change your behavior and be conscious of what messages you’re sending with your own body. Her book gives the reader tips on overcoming many communication roadblocks including how to project confidence, how to look intelligent, how to eliminate verbal pauses, and how to use your posture to show confidence.
Senin, 02 Agustus 2010
अंडा मुन्ग्किन सेदंग स्ट्रेस . .
do u wanna know how stress u are ?!
check it out !!
just take a Look on the images . .
these images are not animation,
these are a static image . .
Let's try . .


time's up !!
have you done that ?!
Let's see the resuLt . .
A teacher says "I feeL the pictures move but sLowLy, Like breathing".
A criminaL who had the tests say that the images rotate very fast.
An eLderLy and the chiLdren say the picture is not moving.
These images are used to determine the LeveL of stress that can be handLed one.
The more sLowLy moving pictures, the better a person's abiLity to overcome stress.
know o now it . .
thx . .
check it out !!
just take a Look on the images . .
these images are not animation,
these are a static image . .
Let's try . .
time's up !!
have you done that ?!
Let's see the resuLt . .
A teacher says "I feeL the pictures move but sLowLy, Like breathing".
A criminaL who had the tests say that the images rotate very fast.
An eLderLy and the chiLdren say the picture is not moving.
These images are used to determine the LeveL of stress that can be handLed one.
The more sLowLy moving pictures, the better a person's abiLity to overcome stress.
know o now it . .
thx . .
Rabu, 19 Mei 2010
वहत अ ग्रेट मोर्निंग . .
Face this day with your sweetest smiLe ,
And the sun wiLL arounds you with the bird's shadow wich fLying among the the dark cLouds ,
And your smiLe wouLd be the most vaLuabLe thing when you are Lost in the desperate
and the weakness . .
And the sun wiLL arounds you with the bird's shadow wich fLying among the the dark cLouds ,
And your smiLe wouLd be the most vaLuabLe thing when you are Lost in the desperate
and the weakness . .
Selasa, 20 April 2010
TROMBOSIT PADA KASUS DBD
DEMAM BERDARAH? Minum Sebanyak-banyaknya..
*) Jangan Buru-buru Transfusi Darah
Demam berdarah memang bisa menjadi penyakit mematikan bila tidak ditangani
secara serius. Namun, penanganannya tidak selalu dengan transfusi. Dalam banyak
kasus, banyak minum atau infus saja bisa menyelamatkan pasien.
Hampir setiap tahun, ketika musim hujan berlangsung, selalu saja terjadi wabah
demam berdarah dengue (DBD). Kalau sudah begini orang mulai panik melakukan
pencegahan. Yang telanjur terjangkit pun mulai resah. Yang terbayang, harus
menjalani transfusi darah dengan berbagai risiko yang mungkin muncul. Yang
celaka bila dokter yang menangani masih "fresh from the campus". Tak jarang,
dengan entengnya, dia meminta dilakukan transfusi darah. Keluarga pasien pun
kalang kabut.
Padahal, demam berdarah tak selalu memerlukan tindakan transfusi darah. Dalam
banyak kasus, demam berdarah cukup ditangani dengan pemberian cairan infus.
Transfusi darah hanya dilakukan pada kondisi khusus.
Jumlah trombosit cepat normal
*
Seseorang yang menderita demam berdarah mengalami perubahan dalam
permiabilitas pembuluh darah. Dinding pembuluh darah penderita menjadi mudah
ditembus cairan tubuh.
Akibatnya, air dari pembuluh darah akan masuk ke dalam jaringan. Pembuluh darah
pun menjadi kekurangan cairan dan oksigen. Bila berlanjut penderita bisa
mengalami shock, yang bisa menggiring pasien ke arah kematian.
Dalam kasus ini, mengatasinya bukan dengan transfusi darah atau komponen darah,
khususnya trombosit. Pasien cuma mengalami kekurangan cairan, sehingga
penanganannya ya dengan memberikan infus cairan elektrolit.
Cairan ini berfungsi untuk mengencerkan darah sehingga darah tidak pekat dan
oksigen mudah dialirkan. Komponen darah yang bertugas mengalirkan oksigen itu
adalah eritrosit (sel darah merah). Sementara trombosit sebagai pencegah
perdarahan, leukosit (sel darah putih) untuk pertahanan hidup, dan plasma darah
untuk pembekuan darah.
Demam berdarah juga bisa meyebabkan penurunan jumlah trombosit dalam darah.
Penurunan trombosit ini biasanya terjadi pada hari keempat sampai kelima.
Penurunan berlangsung selama 3-4 hari. Namun, jumlah trombosit akan meningkat
kembali setelah pasien diberi cairan dalam jumlah cukup. Dan setelah sembuh,
jumlah trombosit darah bisa normal kembali dengan cepat. Dengan demikian
transfusi trombosit tidak diperlukan.
Selain itu, transfusi trombosit mengundang risiko cukup tinggi. Selain
memerlukan biaya cukup mahal, ada kemungkinan pasien akan mengalami infeksi
berbagai virus, terutama bila (komponen) darah tidak melalui proses screening.
Lama-lama pasien pun bisa imun terhadap trombosit.
Atas dasar itulah, ketika demam berdarah mewabah pada tahun 1998, RSCM
menerapkan kebijakan tidak memberikan trombosit pada pasien yang kondisinya
"baik", yakni tidak terjadi perdarahan; yang dimaksud, adanya bercak-bercak
merah di bawah kulit dan bila ditekan tidak menghilang. Transfusi trombosit
hanya diberikan bila jumlah trombosit sangat rendah disertai dengan perdarahan.
Ketika itu, tindakan transfusi darah di RSCM hampir nihil. Sampai April 1998
minggu kedua jumlah penderita demam berdarah yang masuk ke RSCM sudah mencapai
354 orang. Mereka tidak diberi transfusi darah berupa penambahan trombosit.
Mereka cuma mendapatkan infus cairan elektrolit. Hasilnya, mereka berhasil
sembuh. Cuma seorang pasien yang meninggal dunia. Itu pun lantaran si pasien
juga penderita diabetes.
Risiko yang muncul dari penurunan trombosit memang tergantung pada tingkat
keparahan penurunannya. Bila jumlah trombositnya kurang dari 60.000, pasien
mempunyai risiko terjadinya perdarahan. Kurang dari 20.000 risikonya berupa
perdarahan tiba-tiba. Lebih rendah dari 5.000 risikonya paling tinggi, yakni
perdarahan otak.
Fungsi trombosit di dalam tubuh sangat penting, yakni menghentikan perdarahan
akibat pecahnya pembuluh kapiler. Dan perdarahan ini hanya dialami oleh
penderita yang mukosanya sudah terbuka. Umpamanya pada orang yang mengalami
tukak lambung.
Minum sebanyak-banyaknya
Pada akhir dekade 1970-an dan awal dekade 1980-an penyakit yang disebabkan
virus dengue ini banyak menjangkiti anak-anak. Meskipun begitu ada juga bayi
berusia kurang dari 1 tahun terserang penyakit ini.
Bayi berumur kurang dari 6 bulan umumnya amat jarang terserang DBD. Namun, pada
akhir dekade 1990-an orang dewasa pun bisa terjangkiti. Penderita dewasa
berusia 15-40 tahun ini mencapai 30-40%.
Bila virus dengue sudah menyusup ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk Aedes
aegypti, gejala demam berdarah pun segera muncul. Namun, gejala awalnya mirip
penyakit lain, sehingga dokter pun tak bisa memastikannya.
Pada hari sakit kesatu - ketiga, demam tinggi mendadak, tidak pilek atau batuk,
muka kemerahan, lesu dan lemah, tidak nafsu makan, mual dan muntah, dapat
disertai mencret, kejang, nyeri otot, pegal-pegal, serta nyeri perut. Pada hari
sakit ketiga-kelima, demam turun tapi penderita tetap lemah. Hari sakit keenam
merupakan fase penyembuhan, demam menghilang, tidak ada perdarahan baru, timbul
nafsu makan, dan sembuh dari gejala sisa.
Pada saat gejala awal muncul, penderita harus minum sebanyak-banyaknya (ini
berlaku untuk sakit apa pun). Dia mesti minum obat penurun panas, kompres
hangat, minum obat anti kejang bila ada riwayat kejang.
Penderita demam berdarah tidak mesti harus dibawa ke dokter. Yang perlu
dilakukan keluarga pasien adalah tidak terburu-buru panik, apalagi langsung
memeriksakan darah pasien tanpa referensi dokter.
Sebaiknya dia diperiksa apakah demamnya benar-benar sangat tinggi? Apakah
penderita tidak dapat atau tidak mau minum? Apakah terus menerus muntah? Apakah
timbul gejala shock? Apakah timbul perdarahan? Jika semua pertanyaan tadi
jawabannya ya, pasien perlu segera dibawa ke dokter. Setelah melalui
pemeriksaan darah atas permintaan dokter, apakah hasilnya menunjukkan
peningkatan kekentalan darah dan penurunan trombosit darah secara signifikan?
Kalau pertanyaan terakhir jawabnya ya, pasien perlu dibawa ke rumah sakit.
Serangan kedua lebih berbahaya
*
Ada dua virus penyebab demam berdarah, yakni dengue dan chikungunya.
Namun, virus dengue menjadi penyebab terpenting demam berdarah.
Makanya, penyakit yang disebabkannya disebut demam berdarah dengue. Yang
diserang virus ini adalah sel, kemungkinan sel trombosit. Tapi, kemungkinannya
bisa juga menyerang sel lain.
Masa inkubasinya dua minggu. Begitu gejala DBD muncul, sampai tiga hari
timbulnya gejala itu virusnya masih hidup. Setelah itu, mereka akan mati.
Virus dengue sendiri terbagi atas empat tipe, yakni dengue 1, 2, 3, dan 4. Tipe
virus bisa berbeda-beda untuk setiap negara. Di Indonesia misalnya, terdapat
virus dengue tipe 2 dan 3.
Serangan virus dengue kedua akan lebih berbahaya dibandingkan serangan pertama.
Pasalnya, serangan kedua bisa menimbulkan reaksi hematologi (perdarahan)
berlebihan. Sebaliknya, pasien, terutama anak, yang terkena serangan pertama
cuma mengalami demam dengue klasik.
Memang sangat sulit membedakan si penyebar virus dengue, nyamuk aedes aegypti,
dari nyamuk lainnya. Yang terbaik agar terhindar dari demam berdarah adalah
"jangan sampai digigit nyamuk".
Ini sekadar semboyan. Yang penting adalah tidak memberi peluang bagi
terbentuknya habitat nyamuk. Rajin-rajinlah membersihkan lingkungan, tidak
membiarkan genangan air, atau mengganti secara berkala air yang terus
menggenang. Pokoknya seperti "3M" yang diserukan di iklan obat nyamuk itu.
Pengasapan, penaburan bubuk abate, dan lain-lain hanya salah satu kit tambahan
(bukan utama), karena yang terutama adalah cara hidup bersih kita. (intisari)
*) Jangan Buru-buru Transfusi Darah
Demam berdarah memang bisa menjadi penyakit mematikan bila tidak ditangani
secara serius. Namun, penanganannya tidak selalu dengan transfusi. Dalam banyak
kasus, banyak minum atau infus saja bisa menyelamatkan pasien.
Hampir setiap tahun, ketika musim hujan berlangsung, selalu saja terjadi wabah
demam berdarah dengue (DBD). Kalau sudah begini orang mulai panik melakukan
pencegahan. Yang telanjur terjangkit pun mulai resah. Yang terbayang, harus
menjalani transfusi darah dengan berbagai risiko yang mungkin muncul. Yang
celaka bila dokter yang menangani masih "fresh from the campus". Tak jarang,
dengan entengnya, dia meminta dilakukan transfusi darah. Keluarga pasien pun
kalang kabut.
Padahal, demam berdarah tak selalu memerlukan tindakan transfusi darah. Dalam
banyak kasus, demam berdarah cukup ditangani dengan pemberian cairan infus.
Transfusi darah hanya dilakukan pada kondisi khusus.
Jumlah trombosit cepat normal
*
Seseorang yang menderita demam berdarah mengalami perubahan dalam
permiabilitas pembuluh darah. Dinding pembuluh darah penderita menjadi mudah
ditembus cairan tubuh.
Akibatnya, air dari pembuluh darah akan masuk ke dalam jaringan. Pembuluh darah
pun menjadi kekurangan cairan dan oksigen. Bila berlanjut penderita bisa
mengalami shock, yang bisa menggiring pasien ke arah kematian.
Dalam kasus ini, mengatasinya bukan dengan transfusi darah atau komponen darah,
khususnya trombosit. Pasien cuma mengalami kekurangan cairan, sehingga
penanganannya ya dengan memberikan infus cairan elektrolit.
Cairan ini berfungsi untuk mengencerkan darah sehingga darah tidak pekat dan
oksigen mudah dialirkan. Komponen darah yang bertugas mengalirkan oksigen itu
adalah eritrosit (sel darah merah). Sementara trombosit sebagai pencegah
perdarahan, leukosit (sel darah putih) untuk pertahanan hidup, dan plasma darah
untuk pembekuan darah.
Demam berdarah juga bisa meyebabkan penurunan jumlah trombosit dalam darah.
Penurunan trombosit ini biasanya terjadi pada hari keempat sampai kelima.
Penurunan berlangsung selama 3-4 hari. Namun, jumlah trombosit akan meningkat
kembali setelah pasien diberi cairan dalam jumlah cukup. Dan setelah sembuh,
jumlah trombosit darah bisa normal kembali dengan cepat. Dengan demikian
transfusi trombosit tidak diperlukan.
Selain itu, transfusi trombosit mengundang risiko cukup tinggi. Selain
memerlukan biaya cukup mahal, ada kemungkinan pasien akan mengalami infeksi
berbagai virus, terutama bila (komponen) darah tidak melalui proses screening.
Lama-lama pasien pun bisa imun terhadap trombosit.
Atas dasar itulah, ketika demam berdarah mewabah pada tahun 1998, RSCM
menerapkan kebijakan tidak memberikan trombosit pada pasien yang kondisinya
"baik", yakni tidak terjadi perdarahan; yang dimaksud, adanya bercak-bercak
merah di bawah kulit dan bila ditekan tidak menghilang. Transfusi trombosit
hanya diberikan bila jumlah trombosit sangat rendah disertai dengan perdarahan.
Ketika itu, tindakan transfusi darah di RSCM hampir nihil. Sampai April 1998
minggu kedua jumlah penderita demam berdarah yang masuk ke RSCM sudah mencapai
354 orang. Mereka tidak diberi transfusi darah berupa penambahan trombosit.
Mereka cuma mendapatkan infus cairan elektrolit. Hasilnya, mereka berhasil
sembuh. Cuma seorang pasien yang meninggal dunia. Itu pun lantaran si pasien
juga penderita diabetes.
Risiko yang muncul dari penurunan trombosit memang tergantung pada tingkat
keparahan penurunannya. Bila jumlah trombositnya kurang dari 60.000, pasien
mempunyai risiko terjadinya perdarahan. Kurang dari 20.000 risikonya berupa
perdarahan tiba-tiba. Lebih rendah dari 5.000 risikonya paling tinggi, yakni
perdarahan otak.
Fungsi trombosit di dalam tubuh sangat penting, yakni menghentikan perdarahan
akibat pecahnya pembuluh kapiler. Dan perdarahan ini hanya dialami oleh
penderita yang mukosanya sudah terbuka. Umpamanya pada orang yang mengalami
tukak lambung.
Minum sebanyak-banyaknya
Pada akhir dekade 1970-an dan awal dekade 1980-an penyakit yang disebabkan
virus dengue ini banyak menjangkiti anak-anak. Meskipun begitu ada juga bayi
berusia kurang dari 1 tahun terserang penyakit ini.
Bayi berumur kurang dari 6 bulan umumnya amat jarang terserang DBD. Namun, pada
akhir dekade 1990-an orang dewasa pun bisa terjangkiti. Penderita dewasa
berusia 15-40 tahun ini mencapai 30-40%.
Bila virus dengue sudah menyusup ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk Aedes
aegypti, gejala demam berdarah pun segera muncul. Namun, gejala awalnya mirip
penyakit lain, sehingga dokter pun tak bisa memastikannya.
Pada hari sakit kesatu - ketiga, demam tinggi mendadak, tidak pilek atau batuk,
muka kemerahan, lesu dan lemah, tidak nafsu makan, mual dan muntah, dapat
disertai mencret, kejang, nyeri otot, pegal-pegal, serta nyeri perut. Pada hari
sakit ketiga-kelima, demam turun tapi penderita tetap lemah. Hari sakit keenam
merupakan fase penyembuhan, demam menghilang, tidak ada perdarahan baru, timbul
nafsu makan, dan sembuh dari gejala sisa.
Pada saat gejala awal muncul, penderita harus minum sebanyak-banyaknya (ini
berlaku untuk sakit apa pun). Dia mesti minum obat penurun panas, kompres
hangat, minum obat anti kejang bila ada riwayat kejang.
Penderita demam berdarah tidak mesti harus dibawa ke dokter. Yang perlu
dilakukan keluarga pasien adalah tidak terburu-buru panik, apalagi langsung
memeriksakan darah pasien tanpa referensi dokter.
Sebaiknya dia diperiksa apakah demamnya benar-benar sangat tinggi? Apakah
penderita tidak dapat atau tidak mau minum? Apakah terus menerus muntah? Apakah
timbul gejala shock? Apakah timbul perdarahan? Jika semua pertanyaan tadi
jawabannya ya, pasien perlu segera dibawa ke dokter. Setelah melalui
pemeriksaan darah atas permintaan dokter, apakah hasilnya menunjukkan
peningkatan kekentalan darah dan penurunan trombosit darah secara signifikan?
Kalau pertanyaan terakhir jawabnya ya, pasien perlu dibawa ke rumah sakit.
Serangan kedua lebih berbahaya
*
Ada dua virus penyebab demam berdarah, yakni dengue dan chikungunya.
Namun, virus dengue menjadi penyebab terpenting demam berdarah.
Makanya, penyakit yang disebabkannya disebut demam berdarah dengue. Yang
diserang virus ini adalah sel, kemungkinan sel trombosit. Tapi, kemungkinannya
bisa juga menyerang sel lain.
Masa inkubasinya dua minggu. Begitu gejala DBD muncul, sampai tiga hari
timbulnya gejala itu virusnya masih hidup. Setelah itu, mereka akan mati.
Virus dengue sendiri terbagi atas empat tipe, yakni dengue 1, 2, 3, dan 4. Tipe
virus bisa berbeda-beda untuk setiap negara. Di Indonesia misalnya, terdapat
virus dengue tipe 2 dan 3.
Serangan virus dengue kedua akan lebih berbahaya dibandingkan serangan pertama.
Pasalnya, serangan kedua bisa menimbulkan reaksi hematologi (perdarahan)
berlebihan. Sebaliknya, pasien, terutama anak, yang terkena serangan pertama
cuma mengalami demam dengue klasik.
Memang sangat sulit membedakan si penyebar virus dengue, nyamuk aedes aegypti,
dari nyamuk lainnya. Yang terbaik agar terhindar dari demam berdarah adalah
"jangan sampai digigit nyamuk".
Ini sekadar semboyan. Yang penting adalah tidak memberi peluang bagi
terbentuknya habitat nyamuk. Rajin-rajinlah membersihkan lingkungan, tidak
membiarkan genangan air, atau mengganti secara berkala air yang terus
menggenang. Pokoknya seperti "3M" yang diserukan di iklan obat nyamuk itu.
Pengasapan, penaburan bubuk abate, dan lain-lain hanya salah satu kit tambahan
(bukan utama), karena yang terutama adalah cara hidup bersih kita. (intisari)
Sabtu, 03 April 2010
eLegi . .
tak tahu apa yang teLah aku punya dan apa yang teLah hiLang . .
awaLnya berjaLan sesuai rencana . .
semuanya teratur sesuai kehendakku . .
tapi sekarang,
semua berbaLik . .
mereka seperti menikamku terus-menerus , ,
tanpa peduLi bahwa tenggorokanku teLah putus berteriak kesakitan . .
mereka terus saja menikamku . .
tanpa harapan . .
ini saja . .
awaLnya berjaLan sesuai rencana . .
semuanya teratur sesuai kehendakku . .
tapi sekarang,
semua berbaLik . .
mereka seperti menikamku terus-menerus , ,
tanpa peduLi bahwa tenggorokanku teLah putus berteriak kesakitan . .
mereka terus saja menikamku . .
tanpa harapan . .
ini saja . .
Langganan:
Postingan (Atom)
